26/04/2018
Kamis, 20 September 2012 | 15:10
market - majalah pialang edisi 12

Backdoor Listing : Siasat Asing Melantai di Bursa (2)

Backdoor Listing : Siasat Asing Melantai di Bursa (2)
PT. Central Omega Resources Tbk. (DKFT)

 

Kolaborasi Central Omega dan Perusahaan China
 
Salah satu aksi backdoor listing yang perlu dicermati adalah PT Central Omega Resources Tbk (DKFT). Skemanya, perusahaan tambang PT Jinsheng Mining mengakuisisi PT Central Omega Resources Tbk (DKFT) melalui penerbitan saham baru (right issue  ). Selanjutnya, Jinsheng berperan sebagai pembeli siaga aksi korporasi itu.
 
SEBELUM di-back door, perusahaan yang awalnya bernama PT Duta Kirana Finance Tbk ini adalah perusahaan di bidang pembiayaan. Pasca right issue, Central Omega mengubah bisnis intinya menjadi perusahaan di bidang perdagangan dan pertambangan nikel. Adapun Jinsheng Mining diketahui berdiri pada Maret 2007. Perusahaan asal China ini dipimpin Lim Anthony sebagai direksi dan Sencaka serta Yoevan Wiraatmaja masing-masing sebagai komisaris utama, dan anggota komisaris. Pemegang saham perusahaan yang fokus pada bisnis perdagangan tembaga, zinc, nikel, besi, serta barang lain itu terdiri dari Chen Wen Ping sebesar 40%, PT Danpac Resources Kalbar, dan Victory Light Pte Ltd 30%. 
Sebagai gambaran, Victory Light dikuasai Noble Champion International ltd, adapun Danpac Resources Kalbar dikuasai Yoevan dan Sencaka masing-masing 50%. Pada akhir 2011, Central Omega melakukan penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias rights issue dengan melepas 983.736.000 saham biasa dengan rasio 1 : 9 di harga Rp1.000. Berdasarkan harga pelaksanaan HMETD sebesar Rp1.000 dan harga pasar sebesar Rp2.600, maka didapat harga teoritis right issue sebesar Rp1.160.
PT Jinseng Mining yang awalnya tercatat sebagai pemilik mayoritas saham Central Omega dengan porsi 77,5% bertindak sebagai pembeli siaga. Pasca right issue, Jinseng Mining memperbesar kepemilikan sahamnya di Central menjadi 97,99%. Otomatis, jumlah saham beredar tidak terlalu banyak, hanya sekitar 104.000.000 saham. Tentu ini menyulitkan investor publik membeli saham ini di pasar. Dengan kolaborasi ini, Central Omega akan meningkatkan modal untuk pengembangan proyek pengolahan nikel (smelter) di Morowali, Sulawesi Tengah dengan estimasi nilai investasi USD500 juta. 
Bermitra strategis dengan perusahaan asal China, Central Omega mendirikan anak usaha PT Bumi Konawe Abadi dan PT Mulia Pacific Resources guna menggarap proyek tersebut. Sejumlah analis menilai, saham DKFT masih berpeluang naik dan mencapai harga Rp3.000 untuk jangka panjang. Hal ini didasarkan pada proyeksikan laba bersih yang di 2012 tumbuh pesat 157% menjadi Rp475 miliar dari tahun lalu yang Rp185 miliar. Kenaikan laba bersih dipicu peningkatan volume penjualan bijih nikel.
Pada tahun lalu, Return on Equity (ROE) Central Omega juga tergolong fantastis, yaitu lebih dari 100% ROEnya. Kontribusi pendapatan tambang barunya pada tahun 2011 kemungkinan akan berlanjut di tahun ini. Sementara rasio PBV Central Omega sebelum HMETD berada di level 3,46x diatas rata-rata industrinya sebesar 2,38x. Sedangkan setelah HMETD, PBV perseroan menurun di level 1,19x dibawah rata-rata industri yang sebesar 1,62x. Sementara dilihat dari rasio price earning ratio (PER), sebelum HMETD PER Central Omega bereada di bawah rata-rata industrinya yaitu 2,82x berbanding 6,12x, setelah HMETD PER perseroan meningkat di atas industrinya menjadi 12,57x berbanding 9,37x
Dibaca : 1619 kali