26/04/2018
Kamis, 20 September 2012 | 09:33
market - r indro bagus satrio utomo ( majalah pialang edisi 12 )

Asia Menanti Kekalahan Obama

Asia Menanti Kekalahan Obama

 

SEMARAK kebangkitan ekonomi Asia pada millenium ketiga ini diperkirakan akan menggeser perekonomian Barat. Negara digdaya seperti Amerika Serikat (AS), kini ‘membutuhkan’ uluran tangan dari China. Belahan dunia Timur sedang menanti Barat memberikan ‘mahkota’ itu. Tapi siapa juru kunci atau kuncen peralihan ini?Asia bukan semata-mata tentang China. Karena disana masih ada Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Korea dan negara lain. China memang sukses, namun cenderung menikmati kesuksesannya sendiri. Data yang dirilis Standard Chartered tahun 2010 menyebutkan dari total nilai produk domestik bruto (GDP) dunia sebesar US$62 triliun, sebesar US$37,2 triliun (60%) berasal dari Eropa (27 negara), AS dan Jepang. Eropa menyumbang sekitar US$16,74 triliun (27%), AS sebesar US$14,88 triliun (24%) dan Jepang sebesar US$5,58 triliun (9%).

Sementara China menyumbang GDP sebesar US$5,58 triliun (9%), India US$1,24 triliun (2%), sedangkan seluruh negara Asia di luar China, atau dikenal Asia ex China-India-Jepang menyumbang GDP sebesar US$3,72 triliun (6%). Data tersebut menunjukkan peralihan kekuatan ekonomi dunia tidak akan mudah dilakukan. Untuk mengudeta AS, Asia membutuhkan suntikan dana cukup besar. Jika diperhatikan, pulihnya perekonomian Asia Tenggara pasca krisis global 2008, bukan dipicu aliran dana dari China, melainkan dari Barat.

Meski sedang tidak sehat, dalam konteks aliran dana global, AS masih berperan sebagai kartu truf. Negeri Paman Sam mengenggam 24% GDP diplanet ini. Kebijakan politik-ekonominya mempengaruhi pola atau perilaku aliran dana internasional. Arahnya ditentukan oleh dua partai utama; Republik (Konservatif) dan Demokrat (Liberal). Secara karakter, keduanya cenderung saling bertolak belakang. Republik cenderung mengedepankan pengetatan fiskal yang kurang disukai pelaku pasar di Wall Street dan menyukai perang untuk menyelesaikan masalah politik luar negeri-khususnya selama 20 tahun terakhir.

Di sisi lain, Demokrat cenderung mengedepankan pelonggaran fiskal yang disukai kubu Wall Street, penguatan ekonomi internal dan misi damai ketimbang melakukan perang. Estafet kekuasaan antara Partai Republik dan Partai Demokrat AS rupanya menghasilkan pergerakan indeks saham yang seirama. Pada periode 1981 hingga 1993, Partai Republik menduduki pemerintahan AS dengan dua presidennya yaitu Ronald Reagan dua masa jabatan (1981 – 1989) dan George Bush 1 masa jabatan (1989 – 1993). Dalam periode itu, pergerakan DJIA cenderung melandai dengan kenaikan tipis. Pada periode 1993 hingga 2001, Partai Demokrat mengendalikan pemerintahan AS dibawah kepemimpinan Bill Clinton dua kali masa jabatan. Pada periode ini, DJIA mengalami kenaikan signifikan dan ditutup (akhir masa jabatan Clinton) pada level yang jauh lebih tinggi dibanding level DJIA ketika Clinton naik ke kursi presiden.Siklus ini terus terjadi sampai saatini. Selama tiga tahun Obama menjabat, level DJIA kembali mengalami kenaikan tinggi, terutama bila dibandingkan dengan level DJIA ketika Obama dilantik menjadi presiden AS. Pola pergerakan saham AS rupanya juga diikuti pola  yang sama oleh indeks FTSE, Inggris.

Indeks saham keduanya cenderung bergerak dalam tren kenaikan saat Demokrat berkuasa. Di sisi lain, keduanya akan bergerak dalam kecenderungan melandai saat Republik berkuasa. Sementara di pasar saham Asia, situasi yang terjadi justru berkebalikan. Tren pergerakan bursa-bursa di kawasan Asia dengan mengambil contoh bursa Hongkong (HKSE), bursa Singapura (Strait Times), bursa Indonesia (IHSG) dan bursa Shanghai, menunjukkan pola yang berlawanan dengan DJIA dan FTSE. Indeks-indeks saham di kawasan bursa Asia justru bergerak dalam tren kenaikan pada masa pemerintahan Partai Republik di AS. Sebaliknya, bergerak dalam tren melandai pada masa pemerintahan Partai Demokrat di AS.

Banyak analis politik AS yang sepakat peluang presiden Barrack Obama kembali terpilih sangat kecil. Apalagi, Partai Republik kini telah menguasai Kongres. Jika benar demikian, maka bersoraklah Asia.Sejarah menunjukkan bahwa dalam setiap pemerintahan Partai Republik di AS berimplikasi positif pada tren pergerakan indeks-indeks saham di kawasan Asia. Kemenangan Republik akan menjadi kuncen bagi keluarnya arus modal secara besar-besaran dari AS ke kawasan Asia. Bila itu terjadi, lengkap sudah persyaratan yang diperlukan Asia untuk menjadi pemimpin baru dunia. Dalam bahasan yang lebih jernih, Asia sedang menantikan kekalahan Obama.

Dibaca : 540 kali
Terkait :